2. Fungsi sosial Gamelan Jawa
Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan
dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup
masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa
serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.
Pada masyarakat jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan
dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Gamelan memiliki
keagungan tersendiri, buktinya bahwa dunia pun mengakui gamelan adalah
alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik barat
yang serba besar. Gamelan merupakan alat musik yang luwes, karena dapat
berfungsi juga bagi pendidikan.
3. Pewarisan Gamelan Jawa kepada Generasi Muda
Pada masa sekarang ini ada kecenderungan perbedaan persepsi yang
dilakukan oleh generasi-generasi muda melalui berbagai atraksi
kebudayaan yang pada segi-segi lain kelihatan agak menonjol, tetapi
ditinjau dari segi yang lain lagi merupakan kemunduran, terutama yang
menyangkut gerak-gerak tari dan penyuguhan gendhing-gendhing yang
dikeluarkan.
Anak muda terlihat tak tertarik gamelan karena tidak ada yang
mengenalkan. Selain itu tidak ada yang mengajarkan. Itu tidak bisa
disalahkan karena mayoritas orang tua, bahkan lingkungan sekolah, tidak
mendukung anak mengenal gamelan. Bagi generasi muda, gamelan sulit
diminati kalau dibunyikan seperti masa-masa dulu pada era orang tua atau
kakek dan nenek mereka. Anak muda sekarang lebih menyukai jika
membunyikan gamelan sesuka mereka dan dipasangkan dengan alat musik dan
seni apa saja. Walaupun begitu, lewat cara-cara inilah gamelan mendapat
jalan untuk lestari. Gamelan bukan sekadar alat musik tradisional atau
obyek, namun ada spirit di dalamnya, yakni kebersamaan. Yang penting di
sini adalah manusianya, yaitu bagaimana mereka merasa dekat dengan
gamelan.
Perlu dipikirkan pula demi kelestarian kebudayaan kita sendiri yang
sungguh-sungguh Adhi Luhur, penuh dengan estetika, keharmonisan,
ajaran-ajaran, filsafat-filsafat, tatakrama, kemasyarakatan, toleransi,
pembentukan manusia-manusia yang bermental luhur, tidak lepas pula
sebagai faktor pendorong insan dalam beribadah terhadap Tuhan, yaitu
dengan sarana kerja keras dan itikat baik memetri atau menjaga seni dan
budaya sendiri. Jangan sampai ada suatu jurang pemisah atau gap dengan
sesepuh yang benar-benar mumpuni (ahli). Bahkan komunikasi perlu dijaga
sebaik-baiknya dengan sesepuh sebagai sumber atau gudang yang masih
menyimpan berbagai ilmu yang berhubungan dengan masalah kebudayaan itu
sendiri, terutama para empu-empu karawitan, tari dsb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar